7 Rasa Teh di Kawasan Wisata Jatiluwih

TABANAN, Balipuspatrans.com – Selain dikenal dengan teh beras merah, sejak beberapa tahun terakhir dikawasan DTW Jatiluwih, Kecamatan Penebel telah memperkenalkan kehangatan minuman berbahan baku daun teh. Saat ini setidaknya ada tujuh jenis rasa teh dari hasil budidaya tanaman teh dibeberapa titik di kawasan wisata berhawa sejuk tersebut.

 

Pemilik sebuah villa sekaligus petani teh di kawasan Jatiluwih Wawan Setiawan  kepada  mengatakan, budidaya teh ini telah dilakukannya sejak awal Januari 2011 silam. Budidaya ini dilakukannya karena hawa disekitar Jatiluwih mirip dengan hawa 

Sukabumi, Jawa Barat yang sejak jaman Belanda banyak lahannya telah menjadi perkebunan teh. Ia sendiri memang lahir dan tumbuh remaja di Sukabumi hingga akhirnya sejak beberapa dekade terakhir menetap di Bali.

 

Bibit teh yang kini dibudidayakannya ini juga didatangkannya langsung dari Sukabumi. Kini, tanaman teh yang dibudidayakannya tersebut telah mampu menjadi salah satu produk tani Jatiluwih.

 

“Setidaknya produk teh kami dinikmati oleh pengunjung villa kami dan sekaligus dijadikan oleh-oleh ketika mereka (wisatawan) pulang dari sini,” ungkapnya.

 

Terkait pemasaran Wawan Setiawan menjelaskan, selain dibeli sebagai oleh-oleh, teh produknya ini juga telah menjadi salah satu sajian minuman dibeberapa villa dan restoran disekitar DTW Jatiluwih. Sebagiannya lagi dipasarkannya dibeberapa villa dan restoran di Denpasar dan Kuta.

 

Budidaya tehnya ini terbilang sukses secara produk. Setidaknya saat ini Jatiluwih memiliki tujuh macam rasa teh yang disesuaikan dengan warna teh dan cara pengolahannya masing-masing. Seperti teh merah, teh hitam dan teh putih. Beberapa macam teh ini kemudian disuguhkan. Citarasanya bisa dikatakan juara. Khususnya teh putih.

 

Wawan Setiawan juga memiliki impian agar produk teh ini bisa menjadi salah satu produk khas Jatiluwih. Terutama untuk memperkaya produk tani dikawasan yang dikenal sangat subur tersebut. Gayung tersambut, beberapa petani lokal mulai tertarik untuk ikut membudidayakan tanaman teh.

 

Menurutnya, potensi untuk tumbuh suburnya tanaman teh di Jatiluwih ini sangat besar seperti yang telah dibuktikannya. Peluang ekonominya juga sangat terbuka. Sementara disekitar Jatiluwih banyak lahan tidur.

“Budidaya teh di Jatiluwih ini tidak harus dengan mengganti tanaman yang sudah ada. Cukup manfaatkan lahan-lahan tidur,” sebutnya.

Ia berkeyakinan, apabila petani Jatiluwih makin banyak melakukan budidaya teh, secara langsung juga akan mendukung keberadaan DTW Jatiluwih dan justru menambah daya tarik wisatawan untuk makin banyak berkunjung. Adapun daya tarik baru tersebut dengan menyediakan menu wisata agro dengan obyek perkebunan teh.